Kadang aku berpikir. Kenapa kepercayaan ku berbeda dengan
orang lain? Kenapa aku terlahir dengan kepercayaan yang berbeda dengan orang
lain?
Kenapa aku ga ibadah 5 waktu, berpuasa sebulan penuh, dll.
Aku memandang luas betapa sepinya jalan raya ketika pertengahan hari pada hari
jumat. Aku merasa minoritas.
Aku memandang lagi, yang kulihat para wanita yang cantik dan
modis memakai kain yang menutupi ramput, kepala, dan bagian dadanya. Betapa
cantik, betapa anggun mereka memakai kain itu.
Dan kurasakan saat ku mulai memulai hubungan dengan seorang
lelaki dari kaum mayoritas itu. Betapa senang aku untuk mengingatkannya sejenak
menyisihkan waktunya untuk beribadah. Sayangnya aku tak mengerti dengan
kepercayaan mereka. Aku tak tau waktu-waktu untuk dia beribadah. Aku Cuma tau
satu waktu. Dan maafkan jika aku tak mengingatkanmu karena aktivitas ku yang
menyibukkan atau pun karena penyakit lupa ku. Begitu pula denganmu, kamu selalu
mengingatkan ku untuk pergi beribadah setiap minggunya. Kamu melarangku
memegang hp saat aku beribadah. Kita saling menghargai, kita saling melengkapi.
Aku tersenyum, dalam hati ku bergumam “karena perbedaan itulah yang menjadikan
kita lengkap”
TUHAN MEMANG SATU, KITA YANG TAK SAMA. Dan aku sadar,
bagaimana pun tidak akan mungkin kami
bersatu. Kita tak sama, meskipun perbedaan itu indah tapi kenyataannnya terlalu
bertolak belakang. Kamu menganggap haram hewan yang sangat ku sayangi, dan
masih banyak hal lain.
Tersadar, aku terlahir sedemikian sempurna tanpa kurang
suatu apapun. Aku harus bersyukur Yang
Maha Kuasa. Aku tak boleh berpaling, kepercaayaanku akan tetap dan tak akan
berubah.
Dan satu hal lain yang tak akan berubah adalah aku tetap
menyayangimu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar